Rabu, 12 September 2012

Nikmatnya Bersyukur

Beberapa hari terakhir ini sambungan internet di kantor sedikit bermasalah (sedikit siih tapi sering jadi lumayan mengganggu kinerja -,-). Beginilah, ketika sebuah pekerjaan menggantungkan sambungan internet untuk beroperasi. Tatkala internet mati, mati juga pekerjaan. Ga bisa ngapa-ngapain >.< gemeeeessss...

Hari ini internetnya mulai lagi, putus-nyambung dan lemot. Aku yang sedari pagi bersabar, lama-lama sedikit mendongkol. Harusnya seneng siih jadi ga usah capek2, tapi tanggungjawabku gimana kalau begini jadinyaa?? Dua hari kemarin aku ngabur dari kantor ke warnet demi terselesaikan tugasku. Masa' ini harus ngabur lagi???

Barusan vita memintaku mengantarnya ke warung sebelah kantor untuk beli kopi (kopi di dapur habis).  Di warung ketemu Tasya dan Iwan, adek kecil yang suka main di depan kantor. Dengan cerewetnya mereka berceloteh riang dengan renyahnya. Lucu sekali merekaa.. Sampai aku dan vita kembali ke kantor, mereka mengintil kami di belakang. Celoteh-celotehan mereka yang konyol sedikit memberi warna cerah dalam hidupku pagi ini. Betapa riangnya mereka. mereka yang belum memikirkan kerasnya hidup ini. Aaah aku terlalu sombong untuk tidak mensyukuri nikmat dari Tuhanku. Kehadiran anak-anak kecil di sekelilingku seperti doping untukku. Kehadiran Tasya dan Iwan tadi cukup membuyarkan kedongkolanku tentang internet ngadat di kantor. Thank's God

Selasa, 04 September 2012

Mengejar Senja Utama (re: Perpisahan)


Di Racana, aku menganggap teman adalah saudara. Terlebih mereka yang seangkatan. Masuk diklatsar bareng, LPK bareng, jadi Dewan bareng, susah senang kami rasakan bersama dengan warna keegoisan diri (terkadang). Kekompakan yang terjalin dengan cara yang unik. Yaa dengan beberapa manusia dari mereka, saling mengejek adalah cara kami menyayangi satu sama lain. Ada pula dari mereka yang pendiam.  Itu yang membuat aku begitu menghargai dan mencintai mereka. Mereka seperti menjadi kekuatanku untuk tetap bertahan di Racana sampai saat kelulusanku tiba. Dan pada kenyataannya, sampai aku sudah menjadi Purnacisya (alumni) pun alhamdulillah kebersamaan kami tetap terjaga meskipun banyak diantara kami terpisah ruang karna tuntutan kondisi. Seperti aku dulu yang setelah lulus, memutuskan kembali ke kampung halaman dan berpisah dengan mereka. Sampai pada akhirnya aku kembali ke Semarang kembali namun dengan tujuan yang berbeda, bukan menuntut ilmu lagi melainkan untuk mencari nafkah. Meskipun demikian, tak mengurangi waktu dan hasratku untuk kembali ke dalam pelukan kebersamaan dengan mereka. Jauh dengan keluarga tak menjadi masalah dengan keberadaan mereka di sampingku.

Tak beda dengan kondisiku juga dialami oleh salah satu teman seangkatanku di Racana, Afriyan. Dia berasal dari Banten.  Banten–Semarang lumayan jauh. Mei lalu dia lulus kuliah dan dikukuhkan menjadi Purnacisya. Bedanya dengan aku, aku lulus langsung kembali pulang kampung, dia lulus masih bertahan di Semarang. Saat itu aku berpikir “alhamdulillah temanku di sini tak akan berkurang”. Seperti kebanyakan orang, setelah lulus kuliah pastinya project selanjutnya adalah bekerja (jika tak meneruskan ke S2). Dia pun memiliki rencana untuk bekerja di Semarang saja. Empat bulan terakhir dia sibuk tes sana sini demi masuk ke perusahaan yang dia inginkan. Tak jarang dia mengalami kegagalan, namun tetap tak patah arang untuk berjuang ke perusahaan lainnya. Sama seperti aku dulu ketika aku menjalani masa-masa itu, rasanya hidup seperti tak berpihak padaku. Malu sama orang tua, pasti. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan mereka yang menuntut. Semua butuh usaha serta ijin dari Allah SWT.

Setelah lebaran kemarin, alhamdulillah ada kesempatan untuk aku dan teman-teman berkumpul berkunjung ke rumah bunda Tien (Pembina Racana). Aku sempat ngobrol dengan Afriyan. Dia bilang bahwa dia akan kembali ke Banten lagi. Aku pikir dia hanya sekedar pulang biasa dan seminggu kemudian akan balik lagi ke Semarang untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Tapi aku salah, dia pulang ke Banten untuk selamanya. Saat dia berkata “Minggu depan gue mau balik ke Banten, Jul. Awal bulan depan (September). Entah kapan balik ke sini lagi. Maafin gue kalo ada salah ya, Jul” seketika jantungku berhenti beberapa detik. Deg!! Tersentak mendengar kabar itu. Aku memang tak begitu akrab dengan Afriyan tapi ya itu, dia juga termasuk salah satu kekuatanku bertahan di Semarang. Ketika salah satu kekuatanku hilang, apa yang terjadi denganku? Sedikit lemah pastinya.

Sebagai bentuk penghormatan persahabatan kami, aku mengajak teman yang lain untuk memberi sedikit kejutan perpisahan untuk dia. Tanggal 31 Agustus (Jumat), aku, Ferry, dan Titis berencana untuk mengajak Afriyan untuk dinner bareng di Pleburan. Hal yang dulu sering kami lakukan untuk mengisi waktu luang. Yaa sebagai rasa pengobat rindu, karna kami berpikir kapan lagi akan bisa melakukan itu bersama kembali setelah kepergian Afriyan nanti.. (aaaa aku jadi sedih buat nglanjutin tulisan ini, huhuu). Jumat sore sepulang kerja, aku ke PPU untuk bertemu Ferry dan Titis untuk melancarkan aksi. Kami menunggu dari sore sampai jam 8nan malam, Afriyan belum muncul juga. Akhirnya kami bubaran dan pulang. Sayang sekali tak terealisasikan. Malamnya sekitar jam 11an, afriyan sms menanyakan perihal tulisanku untuk Bunda. Lalu aku menanyakan jam keberangkatan dia  pulang esok hari. Dia bilang kereta berangkat jam 8 malam. Ahaaa.. masih ada waktu untuk berbuat sesuatu untuknya. Kebetulan juga Sabtu aku libur. Langsung saja aku menghubungi Ferry untuk merencanakan besok mengantarnya ke stasiun Tawang. Semoga Allah mengijinkan rencana kami :)

Esoknya, Sabtu pagi aku ke kantor pos dan mampir di gerobak mbak Nofi dan cak Jali untuk sungkem lebaran sekalian sarapan, hehee. Lumayan lama bernostalgia di sana. Sudah lama sekali aku ga mampir ke sana. Dalam proses makanku, tiba-tiba muncul Afriyan tersenyum lebar di depan gerobak. Hahaa kaget juga looh saya :D lalu aku menawarkan untuk bergabung sarapan bersama. Katanya dia baru saja dari rumah Ferry untuk menitipkan sesuatu. Setelah makan selesai, dia kembali ke kosan untuk beberes barang yang tersisa. Sorenya, ada rapat di PPU untuk membahas persiapan pelantikan Pandega Madya. Afriyan juga datang. Dia sekalian nanti mau langsung ke stasiun. Tadinya rencana kami yang sebelumnya (ngajak dinner), mau direalisasikan sore itu. Mumpung Afriyannya ada dan teman yang lain juga lumayan banyak yang datang untuk rapat. Eee gantian Titis yang telat nongol. Gagal lagi :(

Adzan Isya’ berkumandang, lekas kami yang berada di PPU untuk solat isya’. Usai solat, kami langsung bersiap menuju Tawang mengantar Afriyan. Yang stay di PPU saat itu kebetulan ada banyak orang. Imam, Fatah, Hervian, Viki, Eko, diajak serta mengantarkan afriyan, dan yang jelas ada Titis, Ferry, dan aku. Dalam bayangku, nantinya kami mengantar Afriyan sampai peron bahkan naik ke dalam kereta dan sempat untuk saying goodbye serta berfoto ria. Tapi... saat kami tiba di parkiran dan belum sempat memarkir motor, lantunan indah dari suara microphone menandakan bahwa kereta yang akan ditumpangi Afriyan segera diberangkatkan. “tung ting tung tiiing.. mohon perhatian. Kereta Senja Utama jurusan Jakarta Pasar Senen akan segera diberangkatkan. Mohon penumpang dengan jurusan Jakarta Pasar Senen untuk segera bersiap-siap. Tung ting tung tiiing”. Woooo.. aku sempat panik. Terlebih Afriyan. Dia langsung lari menuju peron dan tak lupa mengambil tas yang tadinya ku bawakan. Dia lari kekencang-kencangnya mengejar kereta dengan dua ransel yang beratnya masya Allah itu. Aku juga ikutan lari membuntutinya. Begitu pun dengan teman-teman yang lain. Sayangnya, kami tak sempat mengejar Afriyan dan mengantarnya sampai ke dalam kereta. Ke peron saja tak sempat apalagi untuk saying goodbye dan berfoto, huhuu.. sedikit nyesek rasanya. Sedih. Air mata serasa ingin tumpah saat itu juga tapi aku terlalu malu menumpahkannya di depan teman-teman yang lain. Aku berusaha untuk ceria dengan mengusili Ferry (kamuflase tok. Pengalihan kesedihan T.T). Kami hanya bisa memandangi wajah-wajah penumpang di sekeliling kami yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tatapanku kosong, senduu. Kami juga menunggu di parkiran dulu untuk memastikan Afriyan ga ketinggalan kereta. Saat aku asik memandangi bule yang sedang duduk santai, hapeku berdering. “Afriyan” tulisan di layar hapeku. Segera ku jawab telpon darinya. Dia memberi kabar bahwa dia sudah naik kereta dan mendapat tempat duduk. Alhamdulillaaah.. Kekhawatiran sedikit berkurang. Tepat jam 8 malam kereta berangkat meninggalkan Semarang menuju Jakarta. Aku sempat saying goodbye via phone. Saat aku bilang “maaf ya yan kalo ada salah. Hati-hati di jalan. Jangan nangis yaa.. hehee”. Aku mengeluarkan kalimat itu ku sertai tawa renyah di belakangnya. Namun, tau kah jika sebenarnya butiran kristal di balik mataku semakin kuat ingin keluar? Ingin saying goodbye juga untuk Afriyan. Segala tawaku saat itu hanyalah kamuflase belaka.. Setelah mengetahui afriyan dalam keadaan baik-baik saja, kami memutuskan kembali ke PPU. Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara dengan Titis. Sejak keluar dari halaman Tawang melewati Kota Lama dan jalanan Semarang sabtu malam itu, air mata yang berbicara. Akhirnya aku tak mampu lagi menahan mereka. Aku sengaja menutup kaca helm untuk menutupi pipiku yang basah dengan disaksikan bulan temaram samar tersenyum melihat kepiluan hatiku dan mungkin teman-teman yang lain yang hatinya tak mampu ku baca dan mereka sukses menutupinya. Dramatic moment in the beginning of September T.T

Apapun kemasannya, aku benci sekali dengan yang namanya Perpisahan. Terlebih dengan orang-orang yang menjadi kekuatanku. Mail, kakak, sekarang Afriyan.. kerasa banget sedihnya. Ini sebuah ungkapan penghargaanku pada mereka. Aku sangat menghargai persaudaraan kami. Pertemanan yang ikhlas, tanpa pamrih, dan aku tidak menyesal pernah mengenal mereka. Justru aku bersyukur dipertemukan dengan mereka meskipun harus berujung pahit yang tersirat dalam sebuah perpisahan. Aku belajar segala hal dari mereka. Tentang agama, keikhlasan, kebersamaan, semangat, perjuangan, dll. Ini semua sudah tercatat dalam lauful mahfuz, aku harus ikhlas menjalaninya. Semoga kami dipertemukan di jannahNya kelak. Amiin..