Di Racana, aku menganggap teman adalah saudara. Terlebih mereka yang
seangkatan. Masuk diklatsar bareng, LPK bareng, jadi Dewan bareng, susah senang
kami rasakan bersama dengan warna keegoisan diri (terkadang). Kekompakan yang
terjalin dengan cara yang unik. Yaa dengan beberapa manusia dari mereka, saling
mengejek adalah cara kami menyayangi satu sama lain. Ada pula dari mereka yang
pendiam. Itu yang membuat aku begitu
menghargai dan mencintai mereka. Mereka seperti menjadi kekuatanku untuk tetap
bertahan di Racana sampai saat kelulusanku tiba. Dan pada kenyataannya, sampai
aku sudah menjadi Purnacisya (alumni) pun alhamdulillah kebersamaan kami tetap
terjaga meskipun banyak diantara kami terpisah ruang karna tuntutan kondisi. Seperti
aku dulu yang setelah lulus, memutuskan kembali ke kampung halaman dan berpisah
dengan mereka. Sampai pada akhirnya aku kembali ke Semarang kembali namun
dengan tujuan yang berbeda, bukan menuntut ilmu lagi melainkan untuk mencari
nafkah. Meskipun demikian, tak mengurangi waktu dan hasratku untuk kembali ke dalam
pelukan kebersamaan dengan mereka. Jauh dengan keluarga tak menjadi masalah dengan
keberadaan mereka di sampingku.
Tak beda dengan kondisiku juga dialami oleh salah satu teman seangkatanku
di Racana, Afriyan. Dia berasal dari Banten.
Banten–Semarang lumayan jauh. Mei lalu dia lulus kuliah dan dikukuhkan
menjadi Purnacisya. Bedanya dengan aku, aku lulus langsung kembali pulang
kampung, dia lulus masih bertahan di Semarang. Saat itu aku berpikir “alhamdulillah
temanku di sini tak akan berkurang”. Seperti kebanyakan orang, setelah lulus
kuliah pastinya project selanjutnya
adalah bekerja (jika tak meneruskan ke S2). Dia pun memiliki rencana untuk
bekerja di Semarang saja. Empat bulan terakhir dia sibuk tes sana sini demi
masuk ke perusahaan yang dia inginkan. Tak jarang dia mengalami kegagalan,
namun tetap tak patah arang untuk berjuang ke perusahaan lainnya. Sama seperti
aku dulu ketika aku menjalani masa-masa itu, rasanya hidup seperti tak berpihak
padaku. Malu sama orang tua, pasti. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan mereka
yang menuntut. Semua butuh usaha serta ijin dari Allah SWT.
Setelah lebaran kemarin, alhamdulillah ada kesempatan untuk aku dan
teman-teman berkumpul berkunjung ke rumah bunda Tien (Pembina Racana). Aku sempat
ngobrol dengan Afriyan. Dia bilang bahwa dia akan kembali ke Banten lagi. Aku pikir
dia hanya sekedar pulang biasa dan seminggu kemudian akan balik lagi ke
Semarang untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Tapi aku salah, dia
pulang ke Banten untuk selamanya. Saat dia berkata “Minggu depan gue mau balik
ke Banten, Jul. Awal bulan depan (September). Entah kapan balik ke sini lagi. Maafin
gue kalo ada salah ya, Jul” seketika jantungku berhenti beberapa detik. Deg!! Tersentak
mendengar kabar itu. Aku memang tak begitu akrab dengan Afriyan tapi ya itu,
dia juga termasuk salah satu kekuatanku bertahan di Semarang. Ketika salah satu
kekuatanku hilang, apa yang terjadi denganku? Sedikit lemah pastinya.
Sebagai bentuk penghormatan persahabatan kami, aku mengajak teman yang
lain untuk memberi sedikit kejutan perpisahan untuk dia. Tanggal 31 Agustus (Jumat),
aku, Ferry, dan Titis berencana untuk mengajak Afriyan untuk dinner bareng di
Pleburan. Hal yang dulu sering kami lakukan untuk mengisi waktu luang. Yaa sebagai
rasa pengobat rindu, karna kami berpikir kapan lagi akan bisa melakukan itu
bersama kembali setelah kepergian Afriyan nanti.. (aaaa aku jadi sedih buat
nglanjutin tulisan ini, huhuu). Jumat sore sepulang kerja, aku ke PPU untuk bertemu
Ferry dan Titis untuk melancarkan aksi. Kami menunggu dari sore sampai jam 8nan
malam, Afriyan belum muncul juga. Akhirnya kami bubaran dan pulang. Sayang sekali
tak terealisasikan. Malamnya sekitar jam 11an, afriyan sms menanyakan perihal
tulisanku untuk Bunda. Lalu aku menanyakan jam keberangkatan dia pulang esok hari. Dia bilang kereta berangkat
jam 8 malam. Ahaaa.. masih ada waktu untuk berbuat sesuatu untuknya. Kebetulan
juga Sabtu aku libur. Langsung saja aku menghubungi Ferry untuk merencanakan besok
mengantarnya ke stasiun Tawang. Semoga Allah mengijinkan rencana kami :)
Esoknya, Sabtu pagi aku ke kantor pos dan mampir di gerobak mbak Nofi dan
cak Jali untuk sungkem lebaran sekalian sarapan, hehee. Lumayan lama
bernostalgia di sana. Sudah lama sekali aku ga mampir ke sana. Dalam proses
makanku, tiba-tiba muncul Afriyan tersenyum lebar di depan gerobak. Hahaa kaget
juga looh saya :D lalu aku menawarkan untuk bergabung sarapan bersama. Katanya dia
baru saja dari rumah Ferry untuk menitipkan sesuatu. Setelah makan selesai, dia
kembali ke kosan untuk beberes barang yang tersisa. Sorenya, ada rapat di PPU
untuk membahas persiapan pelantikan Pandega Madya. Afriyan juga datang. Dia sekalian
nanti mau langsung ke stasiun. Tadinya rencana kami yang sebelumnya (ngajak
dinner), mau direalisasikan sore itu. Mumpung Afriyannya ada dan teman yang
lain juga lumayan banyak yang datang untuk rapat. Eee gantian Titis yang telat
nongol. Gagal lagi :(

Adzan Isya’ berkumandang, lekas kami yang berada di PPU untuk solat isya’.
Usai solat, kami langsung bersiap menuju Tawang mengantar Afriyan. Yang stay di
PPU saat itu kebetulan ada banyak orang. Imam, Fatah, Hervian, Viki, Eko,
diajak serta mengantarkan afriyan, dan yang jelas ada Titis, Ferry, dan aku. Dalam
bayangku, nantinya kami mengantar Afriyan sampai peron bahkan naik ke dalam kereta
dan sempat untuk saying goodbye serta berfoto ria. Tapi... saat kami tiba di
parkiran dan belum sempat memarkir motor, lantunan indah dari suara microphone menandakan bahwa kereta yang
akan ditumpangi Afriyan segera diberangkatkan. “tung ting tung tiiing.. mohon
perhatian. Kereta Senja Utama jurusan Jakarta Pasar Senen akan segera diberangkatkan.
Mohon penumpang dengan jurusan Jakarta Pasar Senen untuk segera bersiap-siap. Tung
ting tung tiiing”. Woooo.. aku sempat panik. Terlebih Afriyan. Dia langsung
lari menuju peron dan tak lupa mengambil tas yang tadinya ku bawakan. Dia lari
kekencang-kencangnya mengejar kereta dengan dua ransel yang beratnya masya Allah
itu. Aku juga ikutan lari membuntutinya. Begitu pun dengan teman-teman yang
lain. Sayangnya, kami tak sempat mengejar Afriyan dan mengantarnya sampai ke
dalam kereta. Ke peron saja tak sempat apalagi untuk saying goodbye dan berfoto,
huhuu.. sedikit nyesek rasanya. Sedih. Air mata serasa ingin tumpah saat itu
juga tapi aku terlalu malu menumpahkannya di depan teman-teman yang lain. Aku berusaha
untuk ceria dengan mengusili Ferry (kamuflase tok. Pengalihan kesedihan T.T). Kami
hanya bisa memandangi wajah-wajah penumpang di sekeliling kami yang sibuk
dengan kegiatannya masing-masing. Tatapanku kosong, senduu. Kami juga menunggu
di parkiran dulu untuk memastikan Afriyan ga ketinggalan kereta. Saat aku asik
memandangi bule yang sedang duduk santai, hapeku berdering. “Afriyan” tulisan
di layar hapeku. Segera ku jawab telpon darinya. Dia memberi kabar bahwa dia
sudah naik kereta dan mendapat tempat duduk. Alhamdulillaaah.. Kekhawatiran
sedikit berkurang. Tepat jam 8 malam kereta berangkat meninggalkan Semarang
menuju Jakarta. Aku sempat saying goodbye via phone. Saat aku bilang “maaf ya
yan kalo ada salah. Hati-hati di jalan. Jangan nangis yaa.. hehee”. Aku mengeluarkan
kalimat itu ku sertai tawa renyah di belakangnya. Namun, tau kah jika
sebenarnya butiran kristal di balik mataku semakin kuat ingin keluar? Ingin saying
goodbye juga untuk Afriyan. Segala tawaku saat itu hanyalah kamuflase belaka.. Setelah
mengetahui afriyan dalam keadaan baik-baik saja, kami memutuskan kembali ke
PPU. Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara dengan Titis. Sejak keluar dari
halaman Tawang melewati Kota Lama dan jalanan Semarang sabtu malam itu, air
mata yang berbicara. Akhirnya aku tak mampu lagi menahan mereka. Aku sengaja
menutup kaca helm untuk menutupi pipiku yang basah dengan disaksikan bulan
temaram samar tersenyum melihat kepiluan hatiku dan mungkin teman-teman yang lain
yang hatinya tak mampu ku baca dan mereka sukses menutupinya. Dramatic moment in the beginning of September
T.T
Apapun kemasannya, aku benci sekali dengan yang namanya Perpisahan. Terlebih
dengan orang-orang yang menjadi kekuatanku. Mail, kakak, sekarang Afriyan..
kerasa banget sedihnya. Ini sebuah ungkapan penghargaanku pada mereka. Aku sangat
menghargai persaudaraan kami. Pertemanan yang ikhlas, tanpa pamrih, dan aku
tidak menyesal pernah mengenal mereka. Justru aku bersyukur dipertemukan dengan
mereka meskipun harus berujung pahit yang tersirat dalam sebuah perpisahan. Aku
belajar segala hal dari mereka. Tentang agama, keikhlasan, kebersamaan, semangat,
perjuangan, dll. Ini semua sudah tercatat dalam lauful mahfuz, aku harus ikhlas
menjalaninya. Semoga kami dipertemukan di jannahNya kelak. Amiin..