Rabu, 12 September 2012

Nikmatnya Bersyukur

Beberapa hari terakhir ini sambungan internet di kantor sedikit bermasalah (sedikit siih tapi sering jadi lumayan mengganggu kinerja -,-). Beginilah, ketika sebuah pekerjaan menggantungkan sambungan internet untuk beroperasi. Tatkala internet mati, mati juga pekerjaan. Ga bisa ngapa-ngapain >.< gemeeeessss...

Hari ini internetnya mulai lagi, putus-nyambung dan lemot. Aku yang sedari pagi bersabar, lama-lama sedikit mendongkol. Harusnya seneng siih jadi ga usah capek2, tapi tanggungjawabku gimana kalau begini jadinyaa?? Dua hari kemarin aku ngabur dari kantor ke warnet demi terselesaikan tugasku. Masa' ini harus ngabur lagi???

Barusan vita memintaku mengantarnya ke warung sebelah kantor untuk beli kopi (kopi di dapur habis).  Di warung ketemu Tasya dan Iwan, adek kecil yang suka main di depan kantor. Dengan cerewetnya mereka berceloteh riang dengan renyahnya. Lucu sekali merekaa.. Sampai aku dan vita kembali ke kantor, mereka mengintil kami di belakang. Celoteh-celotehan mereka yang konyol sedikit memberi warna cerah dalam hidupku pagi ini. Betapa riangnya mereka. mereka yang belum memikirkan kerasnya hidup ini. Aaah aku terlalu sombong untuk tidak mensyukuri nikmat dari Tuhanku. Kehadiran anak-anak kecil di sekelilingku seperti doping untukku. Kehadiran Tasya dan Iwan tadi cukup membuyarkan kedongkolanku tentang internet ngadat di kantor. Thank's God

Selasa, 04 September 2012

Mengejar Senja Utama (re: Perpisahan)


Di Racana, aku menganggap teman adalah saudara. Terlebih mereka yang seangkatan. Masuk diklatsar bareng, LPK bareng, jadi Dewan bareng, susah senang kami rasakan bersama dengan warna keegoisan diri (terkadang). Kekompakan yang terjalin dengan cara yang unik. Yaa dengan beberapa manusia dari mereka, saling mengejek adalah cara kami menyayangi satu sama lain. Ada pula dari mereka yang pendiam.  Itu yang membuat aku begitu menghargai dan mencintai mereka. Mereka seperti menjadi kekuatanku untuk tetap bertahan di Racana sampai saat kelulusanku tiba. Dan pada kenyataannya, sampai aku sudah menjadi Purnacisya (alumni) pun alhamdulillah kebersamaan kami tetap terjaga meskipun banyak diantara kami terpisah ruang karna tuntutan kondisi. Seperti aku dulu yang setelah lulus, memutuskan kembali ke kampung halaman dan berpisah dengan mereka. Sampai pada akhirnya aku kembali ke Semarang kembali namun dengan tujuan yang berbeda, bukan menuntut ilmu lagi melainkan untuk mencari nafkah. Meskipun demikian, tak mengurangi waktu dan hasratku untuk kembali ke dalam pelukan kebersamaan dengan mereka. Jauh dengan keluarga tak menjadi masalah dengan keberadaan mereka di sampingku.

Tak beda dengan kondisiku juga dialami oleh salah satu teman seangkatanku di Racana, Afriyan. Dia berasal dari Banten.  Banten–Semarang lumayan jauh. Mei lalu dia lulus kuliah dan dikukuhkan menjadi Purnacisya. Bedanya dengan aku, aku lulus langsung kembali pulang kampung, dia lulus masih bertahan di Semarang. Saat itu aku berpikir “alhamdulillah temanku di sini tak akan berkurang”. Seperti kebanyakan orang, setelah lulus kuliah pastinya project selanjutnya adalah bekerja (jika tak meneruskan ke S2). Dia pun memiliki rencana untuk bekerja di Semarang saja. Empat bulan terakhir dia sibuk tes sana sini demi masuk ke perusahaan yang dia inginkan. Tak jarang dia mengalami kegagalan, namun tetap tak patah arang untuk berjuang ke perusahaan lainnya. Sama seperti aku dulu ketika aku menjalani masa-masa itu, rasanya hidup seperti tak berpihak padaku. Malu sama orang tua, pasti. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan mereka yang menuntut. Semua butuh usaha serta ijin dari Allah SWT.

Setelah lebaran kemarin, alhamdulillah ada kesempatan untuk aku dan teman-teman berkumpul berkunjung ke rumah bunda Tien (Pembina Racana). Aku sempat ngobrol dengan Afriyan. Dia bilang bahwa dia akan kembali ke Banten lagi. Aku pikir dia hanya sekedar pulang biasa dan seminggu kemudian akan balik lagi ke Semarang untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Tapi aku salah, dia pulang ke Banten untuk selamanya. Saat dia berkata “Minggu depan gue mau balik ke Banten, Jul. Awal bulan depan (September). Entah kapan balik ke sini lagi. Maafin gue kalo ada salah ya, Jul” seketika jantungku berhenti beberapa detik. Deg!! Tersentak mendengar kabar itu. Aku memang tak begitu akrab dengan Afriyan tapi ya itu, dia juga termasuk salah satu kekuatanku bertahan di Semarang. Ketika salah satu kekuatanku hilang, apa yang terjadi denganku? Sedikit lemah pastinya.

Sebagai bentuk penghormatan persahabatan kami, aku mengajak teman yang lain untuk memberi sedikit kejutan perpisahan untuk dia. Tanggal 31 Agustus (Jumat), aku, Ferry, dan Titis berencana untuk mengajak Afriyan untuk dinner bareng di Pleburan. Hal yang dulu sering kami lakukan untuk mengisi waktu luang. Yaa sebagai rasa pengobat rindu, karna kami berpikir kapan lagi akan bisa melakukan itu bersama kembali setelah kepergian Afriyan nanti.. (aaaa aku jadi sedih buat nglanjutin tulisan ini, huhuu). Jumat sore sepulang kerja, aku ke PPU untuk bertemu Ferry dan Titis untuk melancarkan aksi. Kami menunggu dari sore sampai jam 8nan malam, Afriyan belum muncul juga. Akhirnya kami bubaran dan pulang. Sayang sekali tak terealisasikan. Malamnya sekitar jam 11an, afriyan sms menanyakan perihal tulisanku untuk Bunda. Lalu aku menanyakan jam keberangkatan dia  pulang esok hari. Dia bilang kereta berangkat jam 8 malam. Ahaaa.. masih ada waktu untuk berbuat sesuatu untuknya. Kebetulan juga Sabtu aku libur. Langsung saja aku menghubungi Ferry untuk merencanakan besok mengantarnya ke stasiun Tawang. Semoga Allah mengijinkan rencana kami :)

Esoknya, Sabtu pagi aku ke kantor pos dan mampir di gerobak mbak Nofi dan cak Jali untuk sungkem lebaran sekalian sarapan, hehee. Lumayan lama bernostalgia di sana. Sudah lama sekali aku ga mampir ke sana. Dalam proses makanku, tiba-tiba muncul Afriyan tersenyum lebar di depan gerobak. Hahaa kaget juga looh saya :D lalu aku menawarkan untuk bergabung sarapan bersama. Katanya dia baru saja dari rumah Ferry untuk menitipkan sesuatu. Setelah makan selesai, dia kembali ke kosan untuk beberes barang yang tersisa. Sorenya, ada rapat di PPU untuk membahas persiapan pelantikan Pandega Madya. Afriyan juga datang. Dia sekalian nanti mau langsung ke stasiun. Tadinya rencana kami yang sebelumnya (ngajak dinner), mau direalisasikan sore itu. Mumpung Afriyannya ada dan teman yang lain juga lumayan banyak yang datang untuk rapat. Eee gantian Titis yang telat nongol. Gagal lagi :(

Adzan Isya’ berkumandang, lekas kami yang berada di PPU untuk solat isya’. Usai solat, kami langsung bersiap menuju Tawang mengantar Afriyan. Yang stay di PPU saat itu kebetulan ada banyak orang. Imam, Fatah, Hervian, Viki, Eko, diajak serta mengantarkan afriyan, dan yang jelas ada Titis, Ferry, dan aku. Dalam bayangku, nantinya kami mengantar Afriyan sampai peron bahkan naik ke dalam kereta dan sempat untuk saying goodbye serta berfoto ria. Tapi... saat kami tiba di parkiran dan belum sempat memarkir motor, lantunan indah dari suara microphone menandakan bahwa kereta yang akan ditumpangi Afriyan segera diberangkatkan. “tung ting tung tiiing.. mohon perhatian. Kereta Senja Utama jurusan Jakarta Pasar Senen akan segera diberangkatkan. Mohon penumpang dengan jurusan Jakarta Pasar Senen untuk segera bersiap-siap. Tung ting tung tiiing”. Woooo.. aku sempat panik. Terlebih Afriyan. Dia langsung lari menuju peron dan tak lupa mengambil tas yang tadinya ku bawakan. Dia lari kekencang-kencangnya mengejar kereta dengan dua ransel yang beratnya masya Allah itu. Aku juga ikutan lari membuntutinya. Begitu pun dengan teman-teman yang lain. Sayangnya, kami tak sempat mengejar Afriyan dan mengantarnya sampai ke dalam kereta. Ke peron saja tak sempat apalagi untuk saying goodbye dan berfoto, huhuu.. sedikit nyesek rasanya. Sedih. Air mata serasa ingin tumpah saat itu juga tapi aku terlalu malu menumpahkannya di depan teman-teman yang lain. Aku berusaha untuk ceria dengan mengusili Ferry (kamuflase tok. Pengalihan kesedihan T.T). Kami hanya bisa memandangi wajah-wajah penumpang di sekeliling kami yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tatapanku kosong, senduu. Kami juga menunggu di parkiran dulu untuk memastikan Afriyan ga ketinggalan kereta. Saat aku asik memandangi bule yang sedang duduk santai, hapeku berdering. “Afriyan” tulisan di layar hapeku. Segera ku jawab telpon darinya. Dia memberi kabar bahwa dia sudah naik kereta dan mendapat tempat duduk. Alhamdulillaaah.. Kekhawatiran sedikit berkurang. Tepat jam 8 malam kereta berangkat meninggalkan Semarang menuju Jakarta. Aku sempat saying goodbye via phone. Saat aku bilang “maaf ya yan kalo ada salah. Hati-hati di jalan. Jangan nangis yaa.. hehee”. Aku mengeluarkan kalimat itu ku sertai tawa renyah di belakangnya. Namun, tau kah jika sebenarnya butiran kristal di balik mataku semakin kuat ingin keluar? Ingin saying goodbye juga untuk Afriyan. Segala tawaku saat itu hanyalah kamuflase belaka.. Setelah mengetahui afriyan dalam keadaan baik-baik saja, kami memutuskan kembali ke PPU. Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara dengan Titis. Sejak keluar dari halaman Tawang melewati Kota Lama dan jalanan Semarang sabtu malam itu, air mata yang berbicara. Akhirnya aku tak mampu lagi menahan mereka. Aku sengaja menutup kaca helm untuk menutupi pipiku yang basah dengan disaksikan bulan temaram samar tersenyum melihat kepiluan hatiku dan mungkin teman-teman yang lain yang hatinya tak mampu ku baca dan mereka sukses menutupinya. Dramatic moment in the beginning of September T.T

Apapun kemasannya, aku benci sekali dengan yang namanya Perpisahan. Terlebih dengan orang-orang yang menjadi kekuatanku. Mail, kakak, sekarang Afriyan.. kerasa banget sedihnya. Ini sebuah ungkapan penghargaanku pada mereka. Aku sangat menghargai persaudaraan kami. Pertemanan yang ikhlas, tanpa pamrih, dan aku tidak menyesal pernah mengenal mereka. Justru aku bersyukur dipertemukan dengan mereka meskipun harus berujung pahit yang tersirat dalam sebuah perpisahan. Aku belajar segala hal dari mereka. Tentang agama, keikhlasan, kebersamaan, semangat, perjuangan, dll. Ini semua sudah tercatat dalam lauful mahfuz, aku harus ikhlas menjalaninya. Semoga kami dipertemukan di jannahNya kelak. Amiin..

Kamis, 26 Juli 2012

Puncak Kerinduan Seorang Sahabat Untuk Kekasihnya

Kali ini aku akan bercerita tentang seorang sahabatku yang dirundung rindu berkepanjangan. Ela, namanya. Ela memiliki seorang kekasih yang sering dipanggil teman-teman kuliahnya dengan sebutan “Pakde”. Beberapa bulan lalu setelah graduation ceremony-nya Pakde, dia pergi umroh sekeluarga sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pakde sekeluarga menjalani umroh kurang lebih 10 hari di tanah suci Mekkah. Ela setia menanti Pakde, hihihiii.. setelah kepulangan Pakde dari tanah suci, Pakde memiliki rencana untuk menuntut ilmu ke luar negeri. Ela yang diberi kabar itu sedih karena harus berpisah dengan Pakde untuk beberapa bulan ke depan. Berat sekali rasanya melepas kepergian Pakde, tapi demi cita-cita Ela rela melepas kepergian Pakde, ciiiieehh

Anggap aja yang di gambar ini Ela sedang menanti Pakde ;p
Selama kepergian Pakde ke luar negeri tersebut, Ela mendapat pekerjaan di Surabaya. Tanpa kehadiran Pakde di sisinya, dia menjalani hari-hari sunyinya seorang diri. Jauh dari keluarga (di Kendal) dan teman-temannya (sebagian besar di Semarang). Ditambah Pakde jarang sekali menghubunginya. Roamingnya mahal booo.. hahaa. Ikut sedih juga sih kalau dia curhat tentang kepergian Pakde. Tapi apa mau dikata, aku juga tak bisa menemaninya hidup di Surabaya yang jauh itu :D

Hampir tiga bulan ela di Surabaya, dia mendapat kabar dari Vita -sahabat kami yang di Semarang- bahwa di tempat Vita bekerja membutuhkan pegawai baru. Tak hanya Ela, aku pun dikabari Vita. Kami berdua sama-sama ditawari Vita untuk ikut wawancara. Seperti ada angin surga yang menghempas, kami mengiyakan tawaran Vita. Akhirnya ada kesempatan untuk kami bertiga bertemu kembali setelah beberapa bulan terpisah jarak. Alhamdulillah.. kami berdua diterima semua, tapi beda perusahaan, tapi tempatnya sama. Nah lhoo.. bingung kaan? Aku aja bingung, hahahaa. Aaah apapun namanya, judulnya tetep, sekantoooorrr.. Seneng akhirnya kami bertiga –aku, Ela, Vita- kembali bersama. Yeay!
Selama tinggal di Semarang aku dan Ela tinggal sekosan, kamarnya sebelahan pula, tapi di kantor beda ruangan. Pernah suatu ketika dia ngeluh pengen ketemu Pakde, kangen katanya. Aku memaklumi.. aku juga begitu kalo ditinggal orang yang ku sayang, hehee. Tapi lama-lama dia kelewat gila kalo ngomongin soal Pakde (piss Elaa hahaaa). Bayangin aja, lagi ngomongin sesuatu di YM, ujung-ujungnya ada kata “aku kangen Pakde”, “aku hanya ingin Pakde di sisiku”, atau apalah -,- Begitu hampir tiap saat.. aku sampai gemes >.< parahnya tiap aku berpaling pura-pura ga denger saat dia cerita Pakde, dia selalu bilang “ini bentuk akumulasi rinduku pada Pakdeku sayang yang tinggal jauh di sana huhuhuuu”. Serasa mau pingsan hahahaaa.. tapi aku gemesnya sama dia tuh gemes guyoon.. iyuh deh hahaa

Semalem (26/7/12) saat Ela sedang melakukan ritual anak kos (baca: nyetrika tengah malam), hapenya berdering. Seketika dia beranjak dari tempat duduk sambil berkata “aaa Pakde telpon. Sebentar yaa..” dia berlari ke teras kos sambil lari gembira. Ckckckkk, seneng juga ngeliatnya. Tapi ga ninggalin setrikaan ngejogrok gitu juga kalee. Maen kabur, setrikaan belum dikecilin pemanasnya -__-“ Beberapa menit kemudian dia masuk ke kos dengan senyum sumringah bagai musafir di padang pasir yang nemu air segalon. Serta merta dia berkata “ Pakde sudah di Jakartaaa. Sebentar lagi mau pulang ke Semarang. Aaa senangnyaa..” Aku pasang muka datar dan memandang tipi (sengaja). Tapi ga betah lama-lama nahan tawa. Akhirnya aku ikutan tertawa.. hahahaa kami berdua berisik di malam hari padahal penghuni kos yang lain sudah masuk kandang menarik selimut masing-masing. Alhamdulilaah.. aku ikut senaang :) akhirnya aku tak perlu lagi mendengar keluhan dudul “aku kangen Pakdee” lagi.. hehee.. tapi ya bakal kangen juga dengan kedudulan-kedudulan macam seperti itu ;p

dan anggap saja ini gambar Pakde dan Ela, hihihiii

Akhirnya.. Selamat menjemput penantianmu bertemu Pakde kembali dalam hitungan menit ke depan, Elaa... I always hope you happy. muuaah :*

Senin, 23 Juli 2012

SATU MIMPIKU MENJADI NYATA ^_^



Setelah 8 bulan dalam penantian dan usaha, akhirnya aku kembali ke kota ini. Kota impianku. Tuhan membawaku ke sini dengan suatu alasan. Alasan yang harus ku cari dan akan ku temui jawabannya nanti. Sombong sekali jika aku tak mensyukuri nikmat ini. Bagiku bersyukur tak hanya sekedar terucap oleh lidah, namun lebih kepada menjaga apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Di postinganku MIMPIKU MASIH SAMA April lalu, aku berkata bahwa “Kota impianku membangun hidup”. Ya, aku banyak menggantungkan harapan di kota ini. 4 tahun menjalani hidup di kota ini membuatku memiliki rencana hidup yang bisa dimulai dari kota ini. Sekarang saatnya aku menjadikan mimpiku menjadi nyata. Perlahan tapi pasti. Mimpi-mimpi yang ku bangun sedikit demi sedikit akan ku jadikan nyata (insyaAllah). Tidak mudah dan tidak semulus yang dibayangkan, perlu rencana hidup yang hanya Tuhan yang dapat membantuku. Doa dan usaha adalah yang bisa ku lakukan. Tetap berada di sampingku Tuhan. Aku membutuhkanMu di setiap langkahku.

Semarang, 24 Juli 2012

Kamis, 12 Juli 2012

Sepenggal Kisah Petualanganku : Jogja



Kota Gudeg.. ya, itu adalah sebutan bagi kota Jogjakarta. Kota yang terkenal sebagai kota Pelajar juga. Kota yang sarat akan kebudayaan Jawa. Bahkan mampu menarik wisatawan lokal maupun asing untuk memilih berlibur di kota ini. Saya akui kota ini memiliki daya pikat yang tinggi, saya pun tertarik untuk berlibur ke sana.

Saya sudah berkali-kali mengunjungi Jogjakarta. Namun hanya sekedar berkunjung ke obyek-obyek wisata dan langsung pulang, tidak sempat menginap. Dan beberapa bulan yang lalu saya sempat mengunjungi Jogja sendirian. Berniat kopi darat dengan seorang teman kuliah yang kebetulan pindah ke Magelang setelah lulus kuliah. Sesampai di sana saya bertemu dengan teman yang saya maksud. Namun sayang, rencana kami gagal karena cuaca yang tak bersahabat. Karena takut kehujanan di jalan, teman saya tersebut memutuskan untuk pulang ke Magelang meninggalkan saya sendirian di kota yang asing bagi saya. Sempat clingukan bingung mau kemana. Akhirnya saya menghubungi teman SMA saya yang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sasa namanya. Alhamdulillaah bisa dihubungi dan Sasa menerima saya untuk menginap di kosnya. Dan kami pun janjian untuk bertemu di suatu tempat.

Saya menuju kos Sasa tersebut saat malam mulai beranjak datang. Dasarnya buta kota Jogja, mau kemana bingung mau naik kendaraan apa,hehee. Lalu saya disarankan Sasa untuk naik trans Jogja saja. Saya pun menuruti nasehat Sasa. Saya menunggu bus trans Jogja datang di shelter sebelah UGM. Lumayan lama saya menunggu. Lebih dari 30 menit bus tersebut datang. Tanpa babibu, saya langsung naik ke dalam bus dan sempat bertanya ke kondektur bus “nanti turun di RS. PKU kan pak?” Bapak kondektur menjawa “iya”. Alhamdulillaah tertolong.. hehee

Sepanjang perjalanan saya sedikit gelisah karena tak biasa naik bus trans dan tak tak tau jalan. Saya sampai beberapa kali tanya kondektur untuk memastikan saya tidak salah naik bus trans. Si kondektur dan penumpang yang lain sampai menertawaiku. Saya hanya bisa nyengir kuda, malu. Maklum saja, saya belum pernah naik bus trans di mana pun, bahkan di Semarang, hehee. Namun, beruntungnya saya. Seorang bapak penumpang separuh baya yang duduk bersebelahan dengan saya mengajak saya mengobrol. Dan bapak tersebut sampai bilang “nanti kalau sudah mau dekat RS. PKU saya kasih tau”. Oooh.. Baik sekali bapak itu.. Saya mengucap syukur dalam hati seraya tersenyum.

Setelah melewati Malioboro yang terkenal itu, sampai lah di shelter RS. PKU. Saya lantas bergegas turun. Ternyata bapak penumpang yang menolong saya tadi juga turun di shelter tersebut. Tak lupa saya ucapkan terima kasih. Lalu saya menunggu kedatangan Sasa untuk menjemput saya. Tak sampai 10 menit dia datang dengan tersenyum lebar sambil mengendarai motor. Kami pun spontan tertawa lepas saat bertemu. Rindu sekali rasanya sudah lama tak bertemu. Sekalinya bertemu, di tempat yang terduga. Lalu Sasa mengajak saya untuk ke kosnya. Sebelum ke kos, dia mengajak saya ke alun-alun kidul Jogja untuk mampir ke kedai susu milik temannya. Sayang, alun-alunnya sedang sepi karena usai hujan. Kata Sasa, biasanya kalau malam Minggu selalu ramai. Setelah melewati belokan pertama, sampailah kami ke tempat yang dituju. Di sana saya dikenalkan dengan teman-teman Sasa. Alhamdulillaah disambut ramah oleh mereka. Saya pun memesan susu panas untuk mengusir lelah.

Malam semakin larut, kami pun lekas berpamitan dan menuju kos Sasa. Saya langsung bersih diri dan mengambil posisi tidur. Capeknya luar biasaaa.. Esoknya, pagi sekali kami sudah siap dengan kegiatan kami masing-masing. Kebetulan Sasa ada kegiatan di kampus, sedangkan saya ada janji sama teman di ruang pertemuan UGM. Kami pun menuju kampus bersama. Namun sayang, teman saya terlambat datang dan akhirnya saya disarankan Sasa untuk datang ke Sunday Morning* (SunMor) saja. Saya pun diantar Sasa ke lokasi SunMor dan ditinggal sendirian di sana. Saya berkeliling sendiri menikmati suasana ramai pengunjung yang datang yang sedang menawar barang dagangan atau bahkan hanya sekedar membeli sarapan. Jadi rindu Semarang, huhuuu.

Sekitar pukul 8, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi SunMor dan menemui teman saya. Kami bertemu di sanggar kegiatan dan kami sarapan bersama. Setelah kelar, kami memulai aktivitas yang kami rencanakan. Sayangnya, kami tak bisa lama-lama di Jogja karena pukul 12 travel kami jurusan Semarang segera berangkat. Kami pun mempersiapkan diri. Anehnya, justru saya ingin cepat-cepat meninggalkan Jogja dan sampai di Semarang. Perjalanan kami dari Jogja ke Semarang menempuh waktu 3 jam. Saat memasuki kota Magelang, sempat terpukau oleh keberadaan gunung-gunung yang mengelilinginya. Terlihat sangat segar dan hasrat naik gunung langsung muncul. Rindu alam. Sesampai di Ungaran, saya merasa gembira dan plong. Kenapa? Karena melihat kendaraan yang lain mayoritas ber-plat H dan itu menandakan bahwa saya sudah di area Semarang. Feel like home. Berbeda ketika berada di Jogja tadi.

Dari pengalaman saya ini, saya merenung dan menyimpulkan bahwa saya lebih nyaman hanya berwisata di Jogja dari pada memilih tinggal di sana. Saya lebih merasa nyaman di Semarang meskipun bukan kampung halaman saya. Meskipun banyak orang yang bilang Semarang panas, Semarang ramai, tempat wisatanya sedikit, hidup di Semarang mahal, tapi itu tak meyurutkan rasa nyamanku di sini. Panas itu relatif, ramai juga relatif. Bagi saya kenyaman lebih utama. Toh Semarang dalam 4 tahun belakangan ini mengalami kemajuan. Beberapa titik tempat diperbaiki sehingga tidak terlihat semrawut seperti dulu. Sekarang Semarang terlihat semakin rapi. Bisa jadi saya merasa kurang nyaman karena saya masih asing denganJogja, kurang mengenal.

Tulisan saya di atas hanya secuil ungkapan hati, hanya opini saya saja. Meskipun begitu, saya tetap mencintai Jogja dengan segala kebudayaan dan keindahannya. Di mana pun kita tinggal, di Jogja di Semarang di Surabaya, kita tetap satu INDONESIA..

Dan saya (masih) berkata: kapan saya bisa ke Jogja lagi? :D

*Sunday Morning: semacam pasar yang menjajakan aneka kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau yang hanya buka pada hari Minggu pagi di kampus UGM. Jika di Semarang, seperti di simpang 5 saat Sabtu malam dan Minggu Pagi.

Minggu, 17 Juni 2012

Rapuhku

Entahlaah.. aku hanya ingin menulis. Bercerita sebagian kecil belokan yang aku hadapi di dunia ini saat ini.  Terkadang aku merasa sendirian kala masalah menggoda, padahal tidaklah demikian. Allah selalu bersamaku, hanya saja aku sering lupa menyadari. Astagfirullahal 'Adziim. Rabb, maafkan hamba. Aku tau belokan ini Engkau berikan agar aku tau cara menghadapi belokan selanjutnya yang mungkin lebih 'jahat' dari belokan kecil ini.

Diam.. aku lebih memilih diam daripada aku harus mengadu kepada sahabat, bahkan kepada orang tuaku sendiri. Mungkin bisa saja mereka akan memberi solusi atas 'kebingungan' yang ku hadapi, namun menurutku diam dan mencoba mencari jalan keluar sendiri itu lebih baik.

Aku adalah seorang pribadi pendiam. Semenjak kuliah dan mengenal seorang saudara, aku berubah menjadi sosok yang ceria. Saudaraku ini berhasil mempengaruhi kadar keceriaan dalam hidupku. Tak hentinya aku  bersyukur padaNya. Hampir tiap hari kami menjalani aktivitas bersama, saling mendukung kegiatan masing-masing dan mengingatkan satu sama lain. Hal yang ku  sukai ketika bersamanya adalah ketika aku berhasil mengajaknya ke perpustakaan dan kami saling tenggelam dengan ribuan buku yang kami minati untuk dibaca. Hal lainnya adalah ketika kami melakukan ibadah shalat berjamaah. Ini hal yang paling ku sukai dari seluruh kegiatan-kegiatan kami. Dan hal yang paling ku rindukan saat kami jauh adalah bisa shalat berjamaah lagi. Bahkan aku sampai pernah ngambek karena ditinggal shalat duluan (segitunya yaa, hehee)

Saudaraku ini menurutku sikapnya biasa aja, seperti kebanyakan orang. Suka bandel, suka bohong, usil, suka nyuekin orang, terkesan sombong dan angkuh, malas ngampus, dan semacamnya lah. Namun jika mengenal ia lebih dekat dan dalam, ia adalah pribadi yang lembut dan penyayang. Satu hal yang membuatku takjub padanya, yaitu ia pandai mengaji. Subhanallah.. hati ini selalu bergetar saat mendengar ia melantunkan ayat suci Allah. Ingin rasanya menjadi miliknya, masyaAllah. Salahkah aku jika aku mempunyai ekspektasi seperti ini terhadapnya?(_ _!)

Semua menjadi berbeda kala aku menyelesaikan studi dan aku memutuskan kembali ke kampung halaman. Berat bagiku untuk meninggalkannya, ia pun berat melepasku. Inilah kenyataan. Kami harus berpisah jarak. Aku masih berharap komunikasi kami masih tetap berjalan meski jarak memisah. Namun seiring berjalannya waktu, komunikasi kami justru semakin merenggang. Sedikit demi sedikit kian jauh saat ia memutuskan untuk pindah ke kota lain yang justru semakin jauh dari kotaku. Ibarat kata, aku  berada di utara, ia di ujung selatan. Sedih pastinya, kecewa juga menghinggapi. Aku merasa dijauhi, tanpa sebab dan tanpa penjelasan. Ada apa sebenarnya? Entahlaah.. Aku memilih diam.

Sejak kepergiannya pindah kota, aku kembali menjadi sedikit pendiam. Tak seceria dulu saat bersamanya. Terlebih saat aku di rumah, diam luar biasa. Sungguh luar biasa pengaruhnya dalam hidupku. Sehebat itu kah ia? Rabbii.. hembuskan nafas surgaMu untukku. Kecup dan dekap erat hamba yang lemah ini. Aku rapuuh..T.T

Rabu, 09 Mei 2012

Dua Tahun berBhakti - Pergantian Masa

8 Mei 2010, pagi buta kami ber-delapan (saya, Wahyu, Imam, Ratih, Mbak Hanum, Mas Adhi, Mas Doni, Mas Dani) berseragam lengkap dengan segala macamnya resmi dilantik menjadi Pandega Bhakti Racana Diponegoro oleh Bunda Tien Soepeno dan Kak Erie (Pembina Radip). Ada rasa haru, senang, serta takut. Terharu karena ternyata aku bisa sampai pada tahap ini. Senang karena dapat nama baru, Cordia. Takut jika aku tak dapat menjalankan tugasku dengan baik. Mungkin teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama karena setelah pelantikan dan memakai kelopak pandega itu berarti perjuangan kami sebagai "yang dituakan" dimulai.

Seiring berjalannya waktu syukur alhamdulillah kami senantiasa kompak meskipun hanya ber-delapan. Alhamdulillah kemarin (8 Mei 2012) kami tepat dua tahun berBhakti. Namun, baktiku terhadap Radip kurang maksimal semenjak saya lulus kuliah 6 bulan lalu dan pindah ke kota lain. Dalam hati rasanya aaah masih ingin sekali berbakti seperti dulu, berjuang bersama teman-teman. Inilah yang dinamakan Pergantian Masa. Satu masa telah terlewati bersamamu kawan-kawan..

Dari 8 orang tersebut, sekarang tinggal Wahyu, Imam, Ratih, dan Mas Doni yang masih di Radip. Sedangkan saya, Mas Dani, Mas Adhi, dan Mbak Hanum sudah menyelesaikan studi.

Meski keberadaan kami sekarang terhalang oleh ruang, hati kami tetap satu untuk Radip. Always, I love you all..
Pandega Bhakti RD 2010

Minggu, 22 April 2012

KARTINI VERSIKU..



Raden Ajeng Kartini
 21 April kemarin tepat Indonesia memperingati hari Kartini. Seperti apa sih sosok Kartini? Pasti pembaca sudah pada tau dari cerita Bapak dan Ibu guru sewaktu SD dulu, hehee. Menurut cerita, Kartini adalah pahlawan wanita yang berani memerdekakan kaum wanita Indonesia pada jamannya untuk memperoleh hak pendidikan yang sama dengan kaum pria. Perjuangan beliau sungguh mulia dan dapat dirasakan hasilnya pada jaman sekarang ini. Luar biasa.. Dewasa ini sudah banyak kaum wanita yang ‘merdeka’, terutama dalam hal pendidikan dan kedudukan dalam pekerjaan. Contoh saja Ibu Megawati. Beliau yang seorang wanita mampu menjadi Presiden wanita pertama di Indonesia. Hebat yaah.. mari kaum wanita, tunjukkan semangat dan keberanianmu untuk mencapai asa dan kehidupan yang lebih baik, tapi bukan berarti menyepelekan atau mengesampingkan keberadaan pria looh.. toh kita sebagai wanita juga membutuhkan pria. Seperti kata Nyai Ontosoroh yang saya kutip dari buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”.
Kartini versiku..

Siapa sosok wanita dalam hidupmu yang menjadi Kartini bagimu? Jawaban pembaca pasti berbeda-beda sesuai dengan idola masing-masing. Begitu pun dengan saya. Bagi saya, Kartini adalah ibu saya dan saya sendiri. Bukannya narsis tapi lebih untuk penyemangat diri untuk mencapai tujuan hidup. Saya bertekad untuk menjadi Kartini untuk diri saya sendiri sehingga ada bagian dari diri saya yang dapat saya banggakan. Saya ingin merebut kebebasan dan menggunakannya dengan baik. Seperti kalimat kutipan berikut dari Pramoedya Ananta Toer, “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. Jika saya bangga, pasti orang tua juga bangga. Dan Ibuku adalah Kartini bagiku karena beliau adalah guru pertama dalam hidup saya. Tempat belajar kehidupan. Dari belajar mengeja ABCD.. sampai bagaimana kehidupan berjalan. Beliau juga penyemangat ketika keterpurukan datang melanda diri. Meskipun lebih seringnya ‘cerewet’ tapi saya tau maksud dibaliknya J

Wahai wanita Indonesia, jadikanlah dirimu menjadi wanita yang hebat. Minimal untuk diri sendiri dan keluarga, dan semoga Tuhan memberi jalan untuk kita menjadi wanita yang hebat di mataNya. Amiin..

Selamat berkarya..
Selamat bergaul dengan hidup..
Selamat Hari Kartini.. J