Minggu, 06 April 2014

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku



Tahun 2012 lalu, saya diterima bekerja di salah satu perusahaan web development di Semarang dengan posisi sebagai admin web. Pada awal bekerja, saya memakai notebook saya pribadi untuk bekerja. Baru satu bulan jalan, notebook saya rusak. Mau tidak mau saya harus segera mengganti dengan notebook baru untuk menunjang kinerja saya.

Sejak dari kuliah saya sudah naksir notebook Asus. Sayangnya, notebook pertama saya bukan merk Asus karena hadiah dari orangtua, jadi saya tidak bisa memilih saat mereka membelikan untuk saya. Alasan saya naksir Asus karena saya sering datang ke pameran komputer dan membaca brosur-brosur produk elektronik dengan berbagai macam merk dan type. Saya sangat tertarik dengan kecanggihan produk Asus yang pada waktu dilakukan pengetesan ekstrim untuk notebook berkualitas terbaik. Dan juga Asus merupakan notebook pertama yang mampu mencapai dan bertahan di puncak Gunung Everest. Itu keren sekali bagi saya. Saya belum pernah membaca fitur atau tes tersebut di brosur notebook merk lain. Iklan yang sangat bagus, sungguh menarik. Ini yang membuat saya jatuh hati kepada Asus. Selain itu, Asus memiliki spek yang berbeda sesuai dengan type. Ada notebook untuk gaming, untuk browsing, untuk desain, dan lain-lain. Konsumen tinggal memilih produk sesuai dengan kebutuhan dan budget mereka.

Sebelum saya membeli notebook saya yang kedua, saya sempat berkonsultasi dengan teman saya. Saya memiliki dua kandidat notebook yang ingin saya beli. Satu bermerk Asus, satunya lagi merk lain. Dengan semangat yang menggebu, ia menyarankan saya untuk membeli Asus saja. Katanya, Asus jauh lebih bagus dibanding kandidat merk satunya. Kebetulan ia baru saja membeli notebook Asus seri A43S seminggu sebelumnya, dan ia sangat puas dengan fitur perangkat Asus. Itu membuat saya semakin mantap untuk membeli Asus. Saya putuskan untuk membeli Asus A43E warna hitam dengan budget harga kurang dari 4 juta. Cukup ekonomis dan terjangkau menurut saya. Mengapa saya memilih Asus A43E? Saya memiliki beberapa alasan, sebagai berikut:
1.       Asus A43E memiliki fitur IceCool yang membuat temperatur notebook selalu sejuk dan tidak cepat panas walau digunakan dalam waktu yang lama. Tidak seperti notebook saya yang pertama. Mudah panas saat dipakai untuk waktu yang lama. Terutama untuk menonton video, sangat mudah untuk panas.
2.       Asus A43E menggunakan USB 3.0.
3.       Ada DVD Rom, jadi bisa digunakan untuk membuka file langsung dari CD atau DVD.
4.       Koneksitas jaringan internet mudah dan cepat. Tidak perlu melakukan setting yang ribet.
5.       Speakernya oke banget.

Saya menggunakan Asus A43E ini sudah 1,5 tahun (sejak September 2012). Rasa merasa pilihan saya membelinya adalah pilihan yang sangat tepat. Saya merasa puas dengan fitur perangkatnya. Benar-benar membantu pekerjaan saya. Pekerjaan saya yang notabene-nya membutukan koneksi internet, jadi merasa terbantu dengan mudah dan cepatnya mencari koneksi internet. Saya yang juga suka menonton DVD, tak perlu khawatir notebook akan panas karena teknologi IceCool yang berfungsi mendinginkan. Untuk baterai, awet sekali. Masa baterai dalam keadaan full mampu beroperasi selama kurang lebih 5 jam. Jadi, tidak perlu sebentar sebentar melakukan charging baterai. Dipakai untuk main games juga top banget. Juara! USB 3.0 nya sangat top, sepuluh kali lipat lebih cepat untuk menransfer data external dibanding USB 2.0. Saya senang selama saya memakai notebook ini, dia tak pernah rewel. Selain itu, kelebihan Asus A43E lainnya yang membuat saya tambah suka adalah hanya perlu waktu kurang lebih 5 detik untuk shuting down. Berbeda sekali dengan notebook saya yang lama. Fiturnya jauh lebih bagus Asus. Amazing! Bagi saya, Asus adalah notebook terbaik dan favoritku, serta paling oke di dunia.


Berikut adalah tampilan dari Asus A43E






Bagi yang sedang dilanda bingung akan membeli notebook merk apa? Saya sarankan pilihlah Asus. Dijamin tidak mengecewakan, justru Anda akan semakin mencintainya dengan segala kecanggihan fitur perangkat yang dmilikinya.

Senin, 11 Februari 2013

Mood-ku begini,, bagaimana mood-mu ??


Seringkali kita mengalami mood yang naik turun akibat beberapa hal. Misal saja karena datang bulan, capek, bosan, dan lain-lain. Berikut cara-cara sederhana yang bisa dilakukan untuk meningkatkan mood:

1. Berjalan >> ketika kita menggerakkan tubuh, darah akan terpompa. Sehingga sirkulasi udara dalam darah menjadi lancar. Hal ini dapat sedikit meningkatkan mood.

2. Tertawa >> tertawa yang baik akan membuat kita merasa lebih rileks. Bisa dengan menonton video-video lucu atau membaca cerita jenaka.

3. Chatting >> berbicara kepada teman bisa membuat kita merasa lebih baik. Namun alangkah baiknya ketika mood kita sedang turun lebih baik berbicara melalui tulisan.

4. Menulis >> menulis adalah salah satu cara terbaik meningkatkan mood. Proses menulis menolong kita dalam memperjelas dan menyusun pikiran-pikiran yang mungkin akan menciptakan solusi. Siapa tau malah mendapat inspirasi untuk menulis novel atau buku motivasi. Bermanfaat kan? ^^

5. Mandi >> mandi memberi efek menyegarkan badan dan pikiran.

6. Bernapas >> menarik napas panjang adalah cara paling sederhana untuk menaikkan mood. Bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi apapun.

7. Makan >> jika gula darah menurun, otomatis mood juga berpengaruh turun. Hal ini menyebabkan sulit berkonsentrasi. Maka untuk memenuhi gula darah yang turun, cara yang paling baik adalah makan makanan yang manis.

8. Mendengarkan musik >> mendengarkan lagu favorit juga bisa memulihkan mood yang sedang turun.

Semoga bermanfaat wahai reader ^^
Have a nice day all
Salam cinta dariku :)

- Julia -



Rabu, 12 September 2012

Nikmatnya Bersyukur

Beberapa hari terakhir ini sambungan internet di kantor sedikit bermasalah (sedikit siih tapi sering jadi lumayan mengganggu kinerja -,-). Beginilah, ketika sebuah pekerjaan menggantungkan sambungan internet untuk beroperasi. Tatkala internet mati, mati juga pekerjaan. Ga bisa ngapa-ngapain >.< gemeeeessss...

Hari ini internetnya mulai lagi, putus-nyambung dan lemot. Aku yang sedari pagi bersabar, lama-lama sedikit mendongkol. Harusnya seneng siih jadi ga usah capek2, tapi tanggungjawabku gimana kalau begini jadinyaa?? Dua hari kemarin aku ngabur dari kantor ke warnet demi terselesaikan tugasku. Masa' ini harus ngabur lagi???

Barusan vita memintaku mengantarnya ke warung sebelah kantor untuk beli kopi (kopi di dapur habis).  Di warung ketemu Tasya dan Iwan, adek kecil yang suka main di depan kantor. Dengan cerewetnya mereka berceloteh riang dengan renyahnya. Lucu sekali merekaa.. Sampai aku dan vita kembali ke kantor, mereka mengintil kami di belakang. Celoteh-celotehan mereka yang konyol sedikit memberi warna cerah dalam hidupku pagi ini. Betapa riangnya mereka. mereka yang belum memikirkan kerasnya hidup ini. Aaah aku terlalu sombong untuk tidak mensyukuri nikmat dari Tuhanku. Kehadiran anak-anak kecil di sekelilingku seperti doping untukku. Kehadiran Tasya dan Iwan tadi cukup membuyarkan kedongkolanku tentang internet ngadat di kantor. Thank's God

Selasa, 04 September 2012

Mengejar Senja Utama (re: Perpisahan)


Di Racana, aku menganggap teman adalah saudara. Terlebih mereka yang seangkatan. Masuk diklatsar bareng, LPK bareng, jadi Dewan bareng, susah senang kami rasakan bersama dengan warna keegoisan diri (terkadang). Kekompakan yang terjalin dengan cara yang unik. Yaa dengan beberapa manusia dari mereka, saling mengejek adalah cara kami menyayangi satu sama lain. Ada pula dari mereka yang pendiam.  Itu yang membuat aku begitu menghargai dan mencintai mereka. Mereka seperti menjadi kekuatanku untuk tetap bertahan di Racana sampai saat kelulusanku tiba. Dan pada kenyataannya, sampai aku sudah menjadi Purnacisya (alumni) pun alhamdulillah kebersamaan kami tetap terjaga meskipun banyak diantara kami terpisah ruang karna tuntutan kondisi. Seperti aku dulu yang setelah lulus, memutuskan kembali ke kampung halaman dan berpisah dengan mereka. Sampai pada akhirnya aku kembali ke Semarang kembali namun dengan tujuan yang berbeda, bukan menuntut ilmu lagi melainkan untuk mencari nafkah. Meskipun demikian, tak mengurangi waktu dan hasratku untuk kembali ke dalam pelukan kebersamaan dengan mereka. Jauh dengan keluarga tak menjadi masalah dengan keberadaan mereka di sampingku.

Tak beda dengan kondisiku juga dialami oleh salah satu teman seangkatanku di Racana, Afriyan. Dia berasal dari Banten.  Banten–Semarang lumayan jauh. Mei lalu dia lulus kuliah dan dikukuhkan menjadi Purnacisya. Bedanya dengan aku, aku lulus langsung kembali pulang kampung, dia lulus masih bertahan di Semarang. Saat itu aku berpikir “alhamdulillah temanku di sini tak akan berkurang”. Seperti kebanyakan orang, setelah lulus kuliah pastinya project selanjutnya adalah bekerja (jika tak meneruskan ke S2). Dia pun memiliki rencana untuk bekerja di Semarang saja. Empat bulan terakhir dia sibuk tes sana sini demi masuk ke perusahaan yang dia inginkan. Tak jarang dia mengalami kegagalan, namun tetap tak patah arang untuk berjuang ke perusahaan lainnya. Sama seperti aku dulu ketika aku menjalani masa-masa itu, rasanya hidup seperti tak berpihak padaku. Malu sama orang tua, pasti. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan mereka yang menuntut. Semua butuh usaha serta ijin dari Allah SWT.

Setelah lebaran kemarin, alhamdulillah ada kesempatan untuk aku dan teman-teman berkumpul berkunjung ke rumah bunda Tien (Pembina Racana). Aku sempat ngobrol dengan Afriyan. Dia bilang bahwa dia akan kembali ke Banten lagi. Aku pikir dia hanya sekedar pulang biasa dan seminggu kemudian akan balik lagi ke Semarang untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Tapi aku salah, dia pulang ke Banten untuk selamanya. Saat dia berkata “Minggu depan gue mau balik ke Banten, Jul. Awal bulan depan (September). Entah kapan balik ke sini lagi. Maafin gue kalo ada salah ya, Jul” seketika jantungku berhenti beberapa detik. Deg!! Tersentak mendengar kabar itu. Aku memang tak begitu akrab dengan Afriyan tapi ya itu, dia juga termasuk salah satu kekuatanku bertahan di Semarang. Ketika salah satu kekuatanku hilang, apa yang terjadi denganku? Sedikit lemah pastinya.

Sebagai bentuk penghormatan persahabatan kami, aku mengajak teman yang lain untuk memberi sedikit kejutan perpisahan untuk dia. Tanggal 31 Agustus (Jumat), aku, Ferry, dan Titis berencana untuk mengajak Afriyan untuk dinner bareng di Pleburan. Hal yang dulu sering kami lakukan untuk mengisi waktu luang. Yaa sebagai rasa pengobat rindu, karna kami berpikir kapan lagi akan bisa melakukan itu bersama kembali setelah kepergian Afriyan nanti.. (aaaa aku jadi sedih buat nglanjutin tulisan ini, huhuu). Jumat sore sepulang kerja, aku ke PPU untuk bertemu Ferry dan Titis untuk melancarkan aksi. Kami menunggu dari sore sampai jam 8nan malam, Afriyan belum muncul juga. Akhirnya kami bubaran dan pulang. Sayang sekali tak terealisasikan. Malamnya sekitar jam 11an, afriyan sms menanyakan perihal tulisanku untuk Bunda. Lalu aku menanyakan jam keberangkatan dia  pulang esok hari. Dia bilang kereta berangkat jam 8 malam. Ahaaa.. masih ada waktu untuk berbuat sesuatu untuknya. Kebetulan juga Sabtu aku libur. Langsung saja aku menghubungi Ferry untuk merencanakan besok mengantarnya ke stasiun Tawang. Semoga Allah mengijinkan rencana kami :)

Esoknya, Sabtu pagi aku ke kantor pos dan mampir di gerobak mbak Nofi dan cak Jali untuk sungkem lebaran sekalian sarapan, hehee. Lumayan lama bernostalgia di sana. Sudah lama sekali aku ga mampir ke sana. Dalam proses makanku, tiba-tiba muncul Afriyan tersenyum lebar di depan gerobak. Hahaa kaget juga looh saya :D lalu aku menawarkan untuk bergabung sarapan bersama. Katanya dia baru saja dari rumah Ferry untuk menitipkan sesuatu. Setelah makan selesai, dia kembali ke kosan untuk beberes barang yang tersisa. Sorenya, ada rapat di PPU untuk membahas persiapan pelantikan Pandega Madya. Afriyan juga datang. Dia sekalian nanti mau langsung ke stasiun. Tadinya rencana kami yang sebelumnya (ngajak dinner), mau direalisasikan sore itu. Mumpung Afriyannya ada dan teman yang lain juga lumayan banyak yang datang untuk rapat. Eee gantian Titis yang telat nongol. Gagal lagi :(

Adzan Isya’ berkumandang, lekas kami yang berada di PPU untuk solat isya’. Usai solat, kami langsung bersiap menuju Tawang mengantar Afriyan. Yang stay di PPU saat itu kebetulan ada banyak orang. Imam, Fatah, Hervian, Viki, Eko, diajak serta mengantarkan afriyan, dan yang jelas ada Titis, Ferry, dan aku. Dalam bayangku, nantinya kami mengantar Afriyan sampai peron bahkan naik ke dalam kereta dan sempat untuk saying goodbye serta berfoto ria. Tapi... saat kami tiba di parkiran dan belum sempat memarkir motor, lantunan indah dari suara microphone menandakan bahwa kereta yang akan ditumpangi Afriyan segera diberangkatkan. “tung ting tung tiiing.. mohon perhatian. Kereta Senja Utama jurusan Jakarta Pasar Senen akan segera diberangkatkan. Mohon penumpang dengan jurusan Jakarta Pasar Senen untuk segera bersiap-siap. Tung ting tung tiiing”. Woooo.. aku sempat panik. Terlebih Afriyan. Dia langsung lari menuju peron dan tak lupa mengambil tas yang tadinya ku bawakan. Dia lari kekencang-kencangnya mengejar kereta dengan dua ransel yang beratnya masya Allah itu. Aku juga ikutan lari membuntutinya. Begitu pun dengan teman-teman yang lain. Sayangnya, kami tak sempat mengejar Afriyan dan mengantarnya sampai ke dalam kereta. Ke peron saja tak sempat apalagi untuk saying goodbye dan berfoto, huhuu.. sedikit nyesek rasanya. Sedih. Air mata serasa ingin tumpah saat itu juga tapi aku terlalu malu menumpahkannya di depan teman-teman yang lain. Aku berusaha untuk ceria dengan mengusili Ferry (kamuflase tok. Pengalihan kesedihan T.T). Kami hanya bisa memandangi wajah-wajah penumpang di sekeliling kami yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tatapanku kosong, senduu. Kami juga menunggu di parkiran dulu untuk memastikan Afriyan ga ketinggalan kereta. Saat aku asik memandangi bule yang sedang duduk santai, hapeku berdering. “Afriyan” tulisan di layar hapeku. Segera ku jawab telpon darinya. Dia memberi kabar bahwa dia sudah naik kereta dan mendapat tempat duduk. Alhamdulillaaah.. Kekhawatiran sedikit berkurang. Tepat jam 8 malam kereta berangkat meninggalkan Semarang menuju Jakarta. Aku sempat saying goodbye via phone. Saat aku bilang “maaf ya yan kalo ada salah. Hati-hati di jalan. Jangan nangis yaa.. hehee”. Aku mengeluarkan kalimat itu ku sertai tawa renyah di belakangnya. Namun, tau kah jika sebenarnya butiran kristal di balik mataku semakin kuat ingin keluar? Ingin saying goodbye juga untuk Afriyan. Segala tawaku saat itu hanyalah kamuflase belaka.. Setelah mengetahui afriyan dalam keadaan baik-baik saja, kami memutuskan kembali ke PPU. Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara dengan Titis. Sejak keluar dari halaman Tawang melewati Kota Lama dan jalanan Semarang sabtu malam itu, air mata yang berbicara. Akhirnya aku tak mampu lagi menahan mereka. Aku sengaja menutup kaca helm untuk menutupi pipiku yang basah dengan disaksikan bulan temaram samar tersenyum melihat kepiluan hatiku dan mungkin teman-teman yang lain yang hatinya tak mampu ku baca dan mereka sukses menutupinya. Dramatic moment in the beginning of September T.T

Apapun kemasannya, aku benci sekali dengan yang namanya Perpisahan. Terlebih dengan orang-orang yang menjadi kekuatanku. Mail, kakak, sekarang Afriyan.. kerasa banget sedihnya. Ini sebuah ungkapan penghargaanku pada mereka. Aku sangat menghargai persaudaraan kami. Pertemanan yang ikhlas, tanpa pamrih, dan aku tidak menyesal pernah mengenal mereka. Justru aku bersyukur dipertemukan dengan mereka meskipun harus berujung pahit yang tersirat dalam sebuah perpisahan. Aku belajar segala hal dari mereka. Tentang agama, keikhlasan, kebersamaan, semangat, perjuangan, dll. Ini semua sudah tercatat dalam lauful mahfuz, aku harus ikhlas menjalaninya. Semoga kami dipertemukan di jannahNya kelak. Amiin..

Kamis, 26 Juli 2012

Puncak Kerinduan Seorang Sahabat Untuk Kekasihnya

Kali ini aku akan bercerita tentang seorang sahabatku yang dirundung rindu berkepanjangan. Ela, namanya. Ela memiliki seorang kekasih yang sering dipanggil teman-teman kuliahnya dengan sebutan “Pakde”. Beberapa bulan lalu setelah graduation ceremony-nya Pakde, dia pergi umroh sekeluarga sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pakde sekeluarga menjalani umroh kurang lebih 10 hari di tanah suci Mekkah. Ela setia menanti Pakde, hihihiii.. setelah kepulangan Pakde dari tanah suci, Pakde memiliki rencana untuk menuntut ilmu ke luar negeri. Ela yang diberi kabar itu sedih karena harus berpisah dengan Pakde untuk beberapa bulan ke depan. Berat sekali rasanya melepas kepergian Pakde, tapi demi cita-cita Ela rela melepas kepergian Pakde, ciiiieehh

Anggap aja yang di gambar ini Ela sedang menanti Pakde ;p
Selama kepergian Pakde ke luar negeri tersebut, Ela mendapat pekerjaan di Surabaya. Tanpa kehadiran Pakde di sisinya, dia menjalani hari-hari sunyinya seorang diri. Jauh dari keluarga (di Kendal) dan teman-temannya (sebagian besar di Semarang). Ditambah Pakde jarang sekali menghubunginya. Roamingnya mahal booo.. hahaa. Ikut sedih juga sih kalau dia curhat tentang kepergian Pakde. Tapi apa mau dikata, aku juga tak bisa menemaninya hidup di Surabaya yang jauh itu :D

Hampir tiga bulan ela di Surabaya, dia mendapat kabar dari Vita -sahabat kami yang di Semarang- bahwa di tempat Vita bekerja membutuhkan pegawai baru. Tak hanya Ela, aku pun dikabari Vita. Kami berdua sama-sama ditawari Vita untuk ikut wawancara. Seperti ada angin surga yang menghempas, kami mengiyakan tawaran Vita. Akhirnya ada kesempatan untuk kami bertiga bertemu kembali setelah beberapa bulan terpisah jarak. Alhamdulillah.. kami berdua diterima semua, tapi beda perusahaan, tapi tempatnya sama. Nah lhoo.. bingung kaan? Aku aja bingung, hahahaa. Aaah apapun namanya, judulnya tetep, sekantoooorrr.. Seneng akhirnya kami bertiga –aku, Ela, Vita- kembali bersama. Yeay!
Selama tinggal di Semarang aku dan Ela tinggal sekosan, kamarnya sebelahan pula, tapi di kantor beda ruangan. Pernah suatu ketika dia ngeluh pengen ketemu Pakde, kangen katanya. Aku memaklumi.. aku juga begitu kalo ditinggal orang yang ku sayang, hehee. Tapi lama-lama dia kelewat gila kalo ngomongin soal Pakde (piss Elaa hahaaa). Bayangin aja, lagi ngomongin sesuatu di YM, ujung-ujungnya ada kata “aku kangen Pakde”, “aku hanya ingin Pakde di sisiku”, atau apalah -,- Begitu hampir tiap saat.. aku sampai gemes >.< parahnya tiap aku berpaling pura-pura ga denger saat dia cerita Pakde, dia selalu bilang “ini bentuk akumulasi rinduku pada Pakdeku sayang yang tinggal jauh di sana huhuhuuu”. Serasa mau pingsan hahahaaa.. tapi aku gemesnya sama dia tuh gemes guyoon.. iyuh deh hahaa

Semalem (26/7/12) saat Ela sedang melakukan ritual anak kos (baca: nyetrika tengah malam), hapenya berdering. Seketika dia beranjak dari tempat duduk sambil berkata “aaa Pakde telpon. Sebentar yaa..” dia berlari ke teras kos sambil lari gembira. Ckckckkk, seneng juga ngeliatnya. Tapi ga ninggalin setrikaan ngejogrok gitu juga kalee. Maen kabur, setrikaan belum dikecilin pemanasnya -__-“ Beberapa menit kemudian dia masuk ke kos dengan senyum sumringah bagai musafir di padang pasir yang nemu air segalon. Serta merta dia berkata “ Pakde sudah di Jakartaaa. Sebentar lagi mau pulang ke Semarang. Aaa senangnyaa..” Aku pasang muka datar dan memandang tipi (sengaja). Tapi ga betah lama-lama nahan tawa. Akhirnya aku ikutan tertawa.. hahahaa kami berdua berisik di malam hari padahal penghuni kos yang lain sudah masuk kandang menarik selimut masing-masing. Alhamdulilaah.. aku ikut senaang :) akhirnya aku tak perlu lagi mendengar keluhan dudul “aku kangen Pakdee” lagi.. hehee.. tapi ya bakal kangen juga dengan kedudulan-kedudulan macam seperti itu ;p

dan anggap saja ini gambar Pakde dan Ela, hihihiii

Akhirnya.. Selamat menjemput penantianmu bertemu Pakde kembali dalam hitungan menit ke depan, Elaa... I always hope you happy. muuaah :*

Senin, 23 Juli 2012

SATU MIMPIKU MENJADI NYATA ^_^



Setelah 8 bulan dalam penantian dan usaha, akhirnya aku kembali ke kota ini. Kota impianku. Tuhan membawaku ke sini dengan suatu alasan. Alasan yang harus ku cari dan akan ku temui jawabannya nanti. Sombong sekali jika aku tak mensyukuri nikmat ini. Bagiku bersyukur tak hanya sekedar terucap oleh lidah, namun lebih kepada menjaga apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Di postinganku MIMPIKU MASIH SAMA April lalu, aku berkata bahwa “Kota impianku membangun hidup”. Ya, aku banyak menggantungkan harapan di kota ini. 4 tahun menjalani hidup di kota ini membuatku memiliki rencana hidup yang bisa dimulai dari kota ini. Sekarang saatnya aku menjadikan mimpiku menjadi nyata. Perlahan tapi pasti. Mimpi-mimpi yang ku bangun sedikit demi sedikit akan ku jadikan nyata (insyaAllah). Tidak mudah dan tidak semulus yang dibayangkan, perlu rencana hidup yang hanya Tuhan yang dapat membantuku. Doa dan usaha adalah yang bisa ku lakukan. Tetap berada di sampingku Tuhan. Aku membutuhkanMu di setiap langkahku.

Semarang, 24 Juli 2012

Kamis, 12 Juli 2012

Sepenggal Kisah Petualanganku : Jogja



Kota Gudeg.. ya, itu adalah sebutan bagi kota Jogjakarta. Kota yang terkenal sebagai kota Pelajar juga. Kota yang sarat akan kebudayaan Jawa. Bahkan mampu menarik wisatawan lokal maupun asing untuk memilih berlibur di kota ini. Saya akui kota ini memiliki daya pikat yang tinggi, saya pun tertarik untuk berlibur ke sana.

Saya sudah berkali-kali mengunjungi Jogjakarta. Namun hanya sekedar berkunjung ke obyek-obyek wisata dan langsung pulang, tidak sempat menginap. Dan beberapa bulan yang lalu saya sempat mengunjungi Jogja sendirian. Berniat kopi darat dengan seorang teman kuliah yang kebetulan pindah ke Magelang setelah lulus kuliah. Sesampai di sana saya bertemu dengan teman yang saya maksud. Namun sayang, rencana kami gagal karena cuaca yang tak bersahabat. Karena takut kehujanan di jalan, teman saya tersebut memutuskan untuk pulang ke Magelang meninggalkan saya sendirian di kota yang asing bagi saya. Sempat clingukan bingung mau kemana. Akhirnya saya menghubungi teman SMA saya yang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sasa namanya. Alhamdulillaah bisa dihubungi dan Sasa menerima saya untuk menginap di kosnya. Dan kami pun janjian untuk bertemu di suatu tempat.

Saya menuju kos Sasa tersebut saat malam mulai beranjak datang. Dasarnya buta kota Jogja, mau kemana bingung mau naik kendaraan apa,hehee. Lalu saya disarankan Sasa untuk naik trans Jogja saja. Saya pun menuruti nasehat Sasa. Saya menunggu bus trans Jogja datang di shelter sebelah UGM. Lumayan lama saya menunggu. Lebih dari 30 menit bus tersebut datang. Tanpa babibu, saya langsung naik ke dalam bus dan sempat bertanya ke kondektur bus “nanti turun di RS. PKU kan pak?” Bapak kondektur menjawa “iya”. Alhamdulillaah tertolong.. hehee

Sepanjang perjalanan saya sedikit gelisah karena tak biasa naik bus trans dan tak tak tau jalan. Saya sampai beberapa kali tanya kondektur untuk memastikan saya tidak salah naik bus trans. Si kondektur dan penumpang yang lain sampai menertawaiku. Saya hanya bisa nyengir kuda, malu. Maklum saja, saya belum pernah naik bus trans di mana pun, bahkan di Semarang, hehee. Namun, beruntungnya saya. Seorang bapak penumpang separuh baya yang duduk bersebelahan dengan saya mengajak saya mengobrol. Dan bapak tersebut sampai bilang “nanti kalau sudah mau dekat RS. PKU saya kasih tau”. Oooh.. Baik sekali bapak itu.. Saya mengucap syukur dalam hati seraya tersenyum.

Setelah melewati Malioboro yang terkenal itu, sampai lah di shelter RS. PKU. Saya lantas bergegas turun. Ternyata bapak penumpang yang menolong saya tadi juga turun di shelter tersebut. Tak lupa saya ucapkan terima kasih. Lalu saya menunggu kedatangan Sasa untuk menjemput saya. Tak sampai 10 menit dia datang dengan tersenyum lebar sambil mengendarai motor. Kami pun spontan tertawa lepas saat bertemu. Rindu sekali rasanya sudah lama tak bertemu. Sekalinya bertemu, di tempat yang terduga. Lalu Sasa mengajak saya untuk ke kosnya. Sebelum ke kos, dia mengajak saya ke alun-alun kidul Jogja untuk mampir ke kedai susu milik temannya. Sayang, alun-alunnya sedang sepi karena usai hujan. Kata Sasa, biasanya kalau malam Minggu selalu ramai. Setelah melewati belokan pertama, sampailah kami ke tempat yang dituju. Di sana saya dikenalkan dengan teman-teman Sasa. Alhamdulillaah disambut ramah oleh mereka. Saya pun memesan susu panas untuk mengusir lelah.

Malam semakin larut, kami pun lekas berpamitan dan menuju kos Sasa. Saya langsung bersih diri dan mengambil posisi tidur. Capeknya luar biasaaa.. Esoknya, pagi sekali kami sudah siap dengan kegiatan kami masing-masing. Kebetulan Sasa ada kegiatan di kampus, sedangkan saya ada janji sama teman di ruang pertemuan UGM. Kami pun menuju kampus bersama. Namun sayang, teman saya terlambat datang dan akhirnya saya disarankan Sasa untuk datang ke Sunday Morning* (SunMor) saja. Saya pun diantar Sasa ke lokasi SunMor dan ditinggal sendirian di sana. Saya berkeliling sendiri menikmati suasana ramai pengunjung yang datang yang sedang menawar barang dagangan atau bahkan hanya sekedar membeli sarapan. Jadi rindu Semarang, huhuuu.

Sekitar pukul 8, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi SunMor dan menemui teman saya. Kami bertemu di sanggar kegiatan dan kami sarapan bersama. Setelah kelar, kami memulai aktivitas yang kami rencanakan. Sayangnya, kami tak bisa lama-lama di Jogja karena pukul 12 travel kami jurusan Semarang segera berangkat. Kami pun mempersiapkan diri. Anehnya, justru saya ingin cepat-cepat meninggalkan Jogja dan sampai di Semarang. Perjalanan kami dari Jogja ke Semarang menempuh waktu 3 jam. Saat memasuki kota Magelang, sempat terpukau oleh keberadaan gunung-gunung yang mengelilinginya. Terlihat sangat segar dan hasrat naik gunung langsung muncul. Rindu alam. Sesampai di Ungaran, saya merasa gembira dan plong. Kenapa? Karena melihat kendaraan yang lain mayoritas ber-plat H dan itu menandakan bahwa saya sudah di area Semarang. Feel like home. Berbeda ketika berada di Jogja tadi.

Dari pengalaman saya ini, saya merenung dan menyimpulkan bahwa saya lebih nyaman hanya berwisata di Jogja dari pada memilih tinggal di sana. Saya lebih merasa nyaman di Semarang meskipun bukan kampung halaman saya. Meskipun banyak orang yang bilang Semarang panas, Semarang ramai, tempat wisatanya sedikit, hidup di Semarang mahal, tapi itu tak meyurutkan rasa nyamanku di sini. Panas itu relatif, ramai juga relatif. Bagi saya kenyaman lebih utama. Toh Semarang dalam 4 tahun belakangan ini mengalami kemajuan. Beberapa titik tempat diperbaiki sehingga tidak terlihat semrawut seperti dulu. Sekarang Semarang terlihat semakin rapi. Bisa jadi saya merasa kurang nyaman karena saya masih asing denganJogja, kurang mengenal.

Tulisan saya di atas hanya secuil ungkapan hati, hanya opini saya saja. Meskipun begitu, saya tetap mencintai Jogja dengan segala kebudayaan dan keindahannya. Di mana pun kita tinggal, di Jogja di Semarang di Surabaya, kita tetap satu INDONESIA..

Dan saya (masih) berkata: kapan saya bisa ke Jogja lagi? :D

*Sunday Morning: semacam pasar yang menjajakan aneka kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau yang hanya buka pada hari Minggu pagi di kampus UGM. Jika di Semarang, seperti di simpang 5 saat Sabtu malam dan Minggu Pagi.