![]() |
Kota
Gudeg.. ya, itu adalah sebutan bagi kota Jogjakarta. Kota yang terkenal sebagai
kota Pelajar juga. Kota yang sarat akan kebudayaan Jawa. Bahkan mampu menarik
wisatawan lokal maupun asing untuk memilih berlibur di kota ini. Saya akui kota
ini memiliki daya pikat yang tinggi, saya pun tertarik untuk berlibur ke sana.
Saya
sudah berkali-kali mengunjungi Jogjakarta. Namun hanya sekedar berkunjung ke
obyek-obyek wisata dan langsung pulang, tidak sempat menginap. Dan beberapa
bulan yang lalu saya sempat mengunjungi Jogja sendirian. Berniat kopi darat
dengan seorang teman kuliah yang kebetulan pindah ke Magelang setelah lulus
kuliah. Sesampai di sana saya bertemu dengan teman yang saya maksud. Namun
sayang, rencana kami gagal karena cuaca yang tak bersahabat. Karena takut
kehujanan di jalan, teman saya tersebut memutuskan untuk pulang ke Magelang
meninggalkan saya sendirian di kota yang asing bagi saya. Sempat clingukan
bingung mau kemana. Akhirnya saya menghubungi teman SMA saya yang kuliah di Universitas
Gadjah Mada (UGM). Sasa namanya. Alhamdulillaah bisa dihubungi dan Sasa
menerima saya untuk menginap di kosnya. Dan kami pun janjian untuk bertemu di
suatu tempat.
Saya
menuju kos Sasa tersebut saat malam mulai beranjak datang. Dasarnya buta kota
Jogja, mau kemana bingung mau naik kendaraan apa,hehee. Lalu saya disarankan
Sasa untuk naik trans Jogja saja. Saya pun menuruti nasehat Sasa. Saya menunggu
bus trans Jogja datang di shelter sebelah UGM. Lumayan lama saya menunggu.
Lebih dari 30 menit bus tersebut datang. Tanpa babibu, saya langsung naik ke
dalam bus dan sempat bertanya ke kondektur bus “nanti turun di RS. PKU kan
pak?” Bapak kondektur menjawa “iya”. Alhamdulillaah tertolong.. hehee
Sepanjang
perjalanan saya sedikit gelisah karena tak biasa naik bus trans dan tak tak tau
jalan. Saya sampai beberapa kali tanya kondektur untuk memastikan saya tidak
salah naik bus trans. Si kondektur dan penumpang yang lain sampai menertawaiku.
Saya hanya bisa nyengir kuda, malu. Maklum saja, saya belum pernah naik bus
trans di mana pun, bahkan di Semarang, hehee. Namun, beruntungnya saya. Seorang
bapak penumpang separuh baya yang duduk bersebelahan dengan saya mengajak saya
mengobrol. Dan bapak tersebut sampai bilang “nanti kalau sudah mau dekat RS.
PKU saya kasih tau”. Oooh.. Baik sekali bapak itu.. Saya mengucap syukur dalam
hati seraya tersenyum.
Setelah
melewati Malioboro yang terkenal itu, sampai lah di shelter RS. PKU. Saya
lantas bergegas turun. Ternyata bapak penumpang yang menolong saya tadi juga
turun di shelter tersebut. Tak lupa saya ucapkan terima kasih. Lalu saya
menunggu kedatangan Sasa untuk menjemput saya. Tak sampai 10 menit dia datang
dengan tersenyum lebar sambil mengendarai motor. Kami pun spontan tertawa lepas
saat bertemu. Rindu sekali rasanya sudah lama tak bertemu. Sekalinya bertemu,
di tempat yang terduga. Lalu Sasa mengajak saya untuk ke kosnya. Sebelum ke
kos, dia mengajak saya ke alun-alun kidul Jogja untuk mampir ke kedai susu
milik temannya. Sayang, alun-alunnya sedang sepi karena usai hujan. Kata Sasa,
biasanya kalau malam Minggu selalu ramai. Setelah melewati belokan pertama,
sampailah kami ke tempat yang dituju. Di sana saya dikenalkan dengan
teman-teman Sasa. Alhamdulillaah disambut ramah oleh mereka. Saya pun memesan
susu panas untuk mengusir lelah.
Malam
semakin larut, kami pun lekas berpamitan dan menuju kos Sasa. Saya langsung
bersih diri dan mengambil posisi tidur. Capeknya luar biasaaa.. Esoknya, pagi
sekali kami sudah siap dengan kegiatan kami masing-masing. Kebetulan Sasa ada
kegiatan di kampus, sedangkan saya ada janji sama teman di ruang pertemuan UGM.
Kami pun menuju kampus bersama. Namun sayang, teman saya terlambat datang dan
akhirnya saya disarankan Sasa untuk datang ke Sunday Morning* (SunMor) saja.
Saya pun diantar Sasa ke lokasi SunMor dan ditinggal sendirian di sana. Saya
berkeliling sendiri menikmati suasana ramai pengunjung yang datang yang sedang
menawar barang dagangan atau bahkan hanya sekedar membeli sarapan. Jadi rindu
Semarang, huhuuu.
Sekitar
pukul 8, saya memutuskan untuk meninggalkan lokasi SunMor dan menemui teman
saya. Kami bertemu di sanggar kegiatan dan kami sarapan bersama. Setelah kelar,
kami memulai aktivitas yang kami rencanakan. Sayangnya, kami tak bisa lama-lama
di Jogja karena pukul 12 travel kami jurusan Semarang segera berangkat. Kami
pun mempersiapkan diri. Anehnya, justru saya ingin cepat-cepat meninggalkan
Jogja dan sampai di Semarang. Perjalanan kami dari Jogja ke Semarang menempuh
waktu 3 jam. Saat memasuki kota Magelang, sempat terpukau oleh keberadaan
gunung-gunung yang mengelilinginya. Terlihat sangat segar dan hasrat naik
gunung langsung muncul. Rindu alam. Sesampai di Ungaran, saya merasa gembira dan
plong. Kenapa? Karena melihat kendaraan yang lain mayoritas ber-plat H dan itu
menandakan bahwa saya sudah di area Semarang. Feel like home. Berbeda ketika
berada di Jogja tadi.
Dari
pengalaman saya ini, saya merenung dan menyimpulkan bahwa saya lebih nyaman
hanya berwisata di Jogja dari pada memilih tinggal di sana. Saya lebih merasa
nyaman di Semarang meskipun bukan kampung halaman saya. Meskipun banyak orang
yang bilang Semarang panas, Semarang ramai, tempat wisatanya sedikit, hidup di
Semarang mahal, tapi itu tak meyurutkan rasa nyamanku di sini. Panas itu relatif,
ramai juga relatif. Bagi saya kenyaman lebih utama. Toh Semarang dalam 4 tahun
belakangan ini mengalami kemajuan. Beberapa titik tempat diperbaiki sehingga
tidak terlihat semrawut seperti dulu. Sekarang Semarang terlihat semakin rapi. Bisa
jadi saya merasa kurang nyaman karena saya masih asing denganJogja, kurang
mengenal.
Tulisan saya di atas hanya secuil ungkapan hati, hanya opini saya saja.
Meskipun begitu, saya tetap mencintai Jogja dengan segala kebudayaan dan keindahannya. Di mana pun kita tinggal, di Jogja di
Semarang di Surabaya, kita tetap satu INDONESIA..
Dan saya (masih) berkata: kapan saya bisa ke Jogja lagi? :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar