Entahlaah.. aku hanya ingin menulis. Bercerita sebagian kecil belokan yang aku hadapi di dunia ini saat ini. Terkadang aku merasa sendirian kala masalah menggoda, padahal tidaklah demikian. Allah selalu bersamaku, hanya saja aku sering lupa menyadari. Astagfirullahal 'Adziim. Rabb, maafkan hamba. Aku tau belokan ini Engkau berikan agar aku tau cara menghadapi belokan selanjutnya yang mungkin lebih 'jahat' dari belokan kecil ini.
Diam.. aku lebih memilih diam daripada aku harus mengadu kepada sahabat, bahkan kepada orang tuaku sendiri. Mungkin bisa saja mereka akan memberi solusi atas 'kebingungan' yang ku hadapi, namun menurutku diam dan mencoba mencari jalan keluar sendiri itu lebih baik.
Aku adalah seorang pribadi pendiam. Semenjak kuliah dan mengenal seorang saudara, aku berubah menjadi sosok yang ceria. Saudaraku ini berhasil mempengaruhi kadar keceriaan dalam hidupku. Tak hentinya aku bersyukur padaNya. Hampir tiap hari kami menjalani aktivitas bersama, saling mendukung kegiatan masing-masing dan mengingatkan satu sama lain. Hal yang ku sukai ketika bersamanya adalah ketika aku berhasil mengajaknya ke perpustakaan dan kami saling tenggelam dengan ribuan buku yang kami minati untuk dibaca. Hal lainnya adalah ketika kami melakukan ibadah shalat berjamaah. Ini hal yang paling ku sukai dari seluruh kegiatan-kegiatan kami. Dan hal yang paling ku rindukan saat kami jauh adalah bisa shalat berjamaah lagi. Bahkan aku sampai pernah ngambek karena ditinggal shalat duluan (segitunya yaa, hehee)
Saudaraku ini menurutku sikapnya biasa aja, seperti kebanyakan orang. Suka bandel, suka bohong, usil, suka nyuekin orang, terkesan sombong dan angkuh, malas ngampus, dan semacamnya lah. Namun jika mengenal ia lebih dekat dan dalam, ia adalah pribadi yang lembut dan penyayang. Satu hal yang membuatku takjub padanya, yaitu ia pandai mengaji. Subhanallah.. hati ini selalu bergetar saat mendengar ia melantunkan ayat suci Allah. Ingin rasanya menjadi miliknya, masyaAllah. Salahkah aku jika aku mempunyai ekspektasi seperti ini terhadapnya?(_ _!)
Semua menjadi berbeda kala aku menyelesaikan studi dan aku memutuskan kembali ke kampung halaman. Berat bagiku untuk meninggalkannya, ia pun berat melepasku. Inilah kenyataan. Kami harus berpisah jarak. Aku masih berharap komunikasi kami masih tetap berjalan meski jarak memisah. Namun seiring berjalannya waktu, komunikasi kami justru semakin merenggang. Sedikit demi sedikit kian jauh saat ia memutuskan untuk pindah ke kota lain yang justru semakin jauh dari kotaku. Ibarat kata, aku berada di utara, ia di ujung selatan. Sedih pastinya, kecewa juga menghinggapi. Aku merasa dijauhi, tanpa sebab dan tanpa penjelasan. Ada apa sebenarnya? Entahlaah.. Aku memilih diam.
Sejak kepergiannya pindah kota, aku kembali menjadi sedikit pendiam. Tak seceria dulu saat bersamanya. Terlebih saat aku di rumah, diam luar biasa. Sungguh luar biasa pengaruhnya dalam hidupku. Sehebat itu kah ia? Rabbii.. hembuskan nafas surgaMu untukku. Kecup dan dekap erat hamba yang lemah ini. Aku rapuuh..T.T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar